Marsigit Philosophy Class 2019- Oleh Heriansyah /19701261017
Pendahuluan
Membahas hakikat pendidikan Muhammadiyah tidak terlepas dari filsafat yang melatarbalakanginya baik filsafat Islam sebagai landasan idiologis Muhammadiyah maupun filsafat pendidikan sebagai landasan praksis gerakan pendidikan Muhammadiyah. Secara ontologis agama (Islam) dan filsafat tentu berbeda, agama diyakini dan diamalkan oleh pemeluknya berasal dari Tuhan, sedangkan filsafat berasal dari pikiran manusia. Tetapi filsafat dapat berfungsi sebagai supporting factor bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas beragamanya (Marsigit, 2013). Oleh karena itu, membahas pendidikan Muhammadiyah sebagai pendidikan Islam melalui pendekatan filosofis dapat membantu seseorang untuk memahami konsep dasar dan utama dari pendidikan Muhammadiyah.
Membahas pendidikan Muhammadiyah secara filosofis tidak dapat dilepaskan dari tiga aspek yaitu teori pembaharuan Islam, teori pembaharuan pendidikan Islam, dan teori Filsafat Pendidikan Progresivisme. Teori pembaharuan Islam digunakan melihat pengaruh gerakan pembaruan dunia Islam terhadap munculnya pemikiran-pemikiran pembaruan pendidikan Islam dan pertumbuhan lembaga-lembaga pendidikan Islam modern di tanah air. Teori pembaruan pendidikan Islam digunakan untuk melihat latar belakang pendidikan Islam sehingga memunculkan pemikiran-pemikiran pembaruan pendidikan Muhammadiyah (K.H. Ahmad Dahlan). Filsafat Pendidikan Progresivisme digunakan untuk meninjau konsep pemikiran pembaruan pendidikan Muhammadiyah berdasarkan problematika yang relevan.
Gerakana Pembaharuan Islam
Teori pembaharuan Islam diawali dengan sejarah gerakan revivalisme Islam yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan gerakan Wahabi (Sadzali, 1993). Menurut Charles Kurzman (2001), gerakan Wahhabi di Arab Saudi telah menginspirasi kelahiran tokoh-tokoh revivalis dalam dunia Islam. Di Afrika Barat dipelopori oleh Syaikh Jibril ibn Umar al-Maqdisi, di Asia Selatan muncul gerakan revivalis oleh Haji Syari’at Allah dan Ahmad Barelwi, di Indonesia (Sumatra Barat), gerakan ini dipelopori oleh Haji Miskin (tokoh Padri). Gerakan revivalisme Islam dilanjutkan dengan gerakan modernisme Islam pada pertengahan abad 19 dan memasuki abad 20 di Mesir yang dilakukan oleh adalah Jamaluddin al-Afghani (1839-1897), Muhammad ‘Abduh (1849-1905), dan Rasyid Ridha (1865-1905). Muhammad ‘Abduh memfokuskan perjuangannya pada usaha menyebarkan pemahaman Islam secara rasional.
Menurut Jainuri (2003), gerakan modernisme Muhammad ‘Abduh lebih berorientasi pada usaha meletakkan basis intelektual umat Islam yang berdasarkan pada pemahaman Islam murni dengan menegaskan kembali hakekat Islam dan implikasinya bagi kehidupan masyarakat modern melalui jalur pendidikan dan pengajaran. Dia berkonsentrasi melakukan reformasi sistem pendidikan di Universitas al-Azhar.
Muhammadiyah dan Pembaharuan Pendidikan Islam
Gerakan pembaharuan Islam berpengarauh kepada gerakan pendidikan Islam di Indonesia. Di Sumatera Barat, pengikut paderi diantara Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawy mendirikan madarasah modern dan di Jawa dipelopori oleh KH Ahmad Dahlan. Membicarakan pendidikan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari pendiri Muhammadiyah. Ide dasar konsep pendidikan yang dibangun oleh KH. Ahmad Dahlan pada zamannya adalah sebuah “quantum” kemajuan yang sangat progresif. Dahlan ingin mengintegrasikan akal dan hati nurani yang tidak sekedar penggabungan, tetapi teraduk dalam kesatuan yang integral. Menurut Dahlan, seperti dituturkan oleh AR Fachruddin (1916-1994), Ketua Umum Muhammadiyah (1974-1990) bahwa antara jiwa dan jasad haruslah diselaraskan, yang kedua-keduanya membutuhkan pendidikan. Pendidikan haruslah memenuhi segala keperluan manusia yang terdiri atas jiwa dan jasad, ruhani dan jasmani. Jiwa membutuhkan agama agar dapat berhubungan langsung secara baik dan benar kepada Allah Swt. Selanjutnya jasad perlu dipenuhi kebutuhannya agar manusia bisa melaksanakan kehidupannya di dunia ini, guna membangun peradabannya (Siddik, 2010).
Dahlan mampu menggabungkan konsep pendidikan Barat plus pendidikan agama yang berorientasi modern. Pada zaman Dahlan, sistem pendidikan mewujud dalam dua kutub ekstrim yang sangat berlawanan. Di satu ujung, terdapat sistem pendidikan pesantren yang sangat tradisional yang hanya mengajarkan agama dan hampir-hampir tidak bersentuhan dengan keperluan hidup di dunia. Di pihak lain, terdapat sistem pendidikan modern sekuler/Barat (penjajah) saat itu yang hanya mengajarkan ilmu umum, mengabaikan sama sekali sisi agama. Keduanya tidak pula berjalan saling membiarkan, tetapi saling merendahkan satu sama lainnya dan menumbuhkan prasangka buruk di antara keduanya. Para santri mempersepsikan orang-orang yang belajar di sekolah-sekolah Belanda adalah manusia sesat yang tidak Muslim lagi. Sebaliknya, kalangan pelajar dari sekolah Belanda mempersepsikan para santri adalah simbol keterbelakangan dan kebodohan karena pengetahuan para santri yang terbatas pada ilmu-ilmu agama, yang dianggap tidak dapat membangun peradaban yang maju. Dampak yang ditumbuhkannya tidak hanya sekedar terjadinya jurang pemisah antara golongan Intelektual yang berlatar belakang pendidikan umum dengan golongan ulama yang berlatar belakang pendidikan pesantren, tetapi lebih dari itu yakni menimbulkan kekurang-pedulian kaum intelektual terhadap persoalan agama, bahkan sebahagiannya cenderung memusuhi agama (Siddik, 2010).
Ahmad Dahlan melihat kedua sistem tersebut sama-sama memiliki kelemahan yang sangat mendasar. Sistem yang pertama lemah lantaran menjadikan anak didiknya hanya ahli spiritual, ukhrawi namun minus kecakapan, skill modern. Sedangkan yang kedua menjadikan anak didik cakap dengan keterampilan duniawi namun buta akan persoalan agama. Padahal, agama mensabdakan pentingnya menguasai baik ilmu dunia maupun ilmu agama. Dahlan dengan sistem pendidikan integral; menggunakan model pendidikan Barat dan pada saat bersamaan mengintrodusirnya dengan pengetahuan agama. Menjadi Muslim yang baik tanpa perlu gagap dengan modernitas, sekaligus menjadi manusia modern tanpa perlu kehilangan jati diri agama sehingga memiliki kontribusi bagi kemajuan bangsanya.
Pemikiran Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan yang kreatif adalah semangat pembaharuan (tajdid) dalam memahami Alquran. Ahmad Dahlan berharap, pendidikan Muhammadiyah menjadi rahmatan lil ‘âlamîn dan pemikiran Muhammadiyah siap menerima kontribusi dari semua lapisan masyarakat. Pemikiran yang demikian dibangun dan dikembangkan dengan bersumberkan pada wahyu, akal, ilham dan realitas sosial untuk mendukung universalitas Islam sebagai petunjuk bagi manusia menuju kesalehan individual dan kesalehan sosial. Akan tetapi pasca Ahmad Dahlan wafat dan memasuki era revolusi industri 4.0, timbul beberapa masalah terkait pendidikan Muhammadiyah yakni:
1. Muhammadiyah hanya bergelut untuk mempertahankan eksistensi yang menangkap hasil ijtihad bidang pendidikan, bukan etos ijtihad yang diwariskan Dahlan. Pengelola organisasi pendidikan Muhammadiyah lebih sering berhadapan dengan masalah-masalah teknis dari amal usaha pendidikan yang didirikannya sehingga tujuan utama pendidikan Muhammadiyah terabaikan.
2. Muhammadiyah dalam banyak hal hanya meneruskan praktik-praktik pendidikan yang dilakukan Dahlan tanpa pengembangan lebih lanjut, padahal lembaga pendidikan lain sudah melakukan hal yang sama (pendidikan integratif) sehingga tidak ada lagi perbedaan pendidikan di Muhammadiyah dengan gerakan lain.
3. Era teknologi informasi dan revolusi industri 4.0 merubah sifat manusia dalam berinteraksi di masyarakat, menuntut perubahan pendidikan Muhammadiyah yang tidak sekedar mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Pendidikan Muhammadiyah harus mampu menjawab problematika sosial yang mampu mempertahankan nilai-nilai dengan menguasai dunia digital.
4. Muhammadiyah merasa “mapan” dengan jumlah amal usaha pendidikan yang banyak dan besar sehingga tidak berupaya melahirkan model pendidikan Islam yang kreratif dan dibutuhkan era industri 4.0 sekarang.
Paradigma Pendidikan Muhammadiyah Menuju Pendidikan Progresif
Pendidikan tidak lepas dari lingkungan termasuk pengalaman yang ada di sekelilingnya. Pengalaman menurut progressivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrim, serta pluralistis. Progressivisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika Serikat sekitar abad ke-20. John S. Brubaeher, mengatakan bahwa filsafat progressivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang di perkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1885 1952), yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis.
Menurut progressivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kebudayaan. Belajar berfungsi untuk: mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
Untuk itu pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhimya akan dapat memberikan warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan (anak didik) adalah manusia-manusia yang berkualitas unggul, kompetitif, inisiatif, adaptif dan kreatif sanggup menjawab tantangan zamannya. Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman atau kurikulum eksperimental, yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman, di mana apa yang telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan nyatanya. Dengan metode pendidikan “Belajar Sambil Berbuat” (Learning by doing) dan pemecahan masalah (Problem solving) dengan langkah-langkah menghadapi problem, mengajukan hipotesa. Progresivisme didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus berpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatanProgresivist memandang bahwa “style of teaching” adalah komponen penting dalam pendidikan. (Marsigit, 1996)
Tabel 1. Teori Pendidikan Progresif John Dewey
Tujuan
|
Kurikulum
|
Subjek Didik
|
Pendidik
|
Metode
|
Berkontribusi pada kepribadian individu, sosial dan pertumbuhan masyarakat melalui rekonstruksi pengalaman secara terus menerus
|
Mencipta dan melakukan; Berbasis masalah
|
Aktif dalam proses pembelajaran dan partisipatif
|
Menciptakan lingkungan belajar berdasarkan pengalaman komunitas pembelajar
|
Problem solving, metode ilmiah,metode projek
|
Sumber: Dikembangkan dari Ornstein dan Levine,1989; McNerney, R.F dan Herbert J.M., 2001.
Tampak filsafat progressivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progres (maju) bertindak secara konstruktif, inovatif dan reformatif, aktif serta dinamis. Sebab sudah menjadi naluri manusia selalu menginginkan perubahan-perubahan. Manusia tidak mau hanya menerima satu macam keadaan saja, akan tetapi berkemauan hidupnya tidak sama dengan masa sebelumnya. Untuk mendapatkan perubahan itu manusia harus memiliki pandangan hidup di mana pandangan hidup yang bertumpu pada sifat-sifat: fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh doktrin tertentu), curious (ingin mengetahui dan menyelidiki), toleran dan open minded (punya hati terbuka). Umat manusia ada dalam suatu keadaan yang berubah secara konstan, dan pendidikan memungkinkan masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu.
Pandangan ontologi progresivisme bertumpu pada tiga hal yakni asas hereby (asas keduniaan), pengalaman sebagai realita dan pikiran (mind) sebagai fungsi manusia yang unik. Asas Hereby ialah adanya kehidupan realita yang amat luas tidak terbatas sebab kenyataan alam semesta adalah kenyataan dalam kehidupan manusia.
Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atas segala sesuatu. Manusia punya potensi pikiran (mind) yang berperan dalam pengalaman. Eksistensi dan realita mind hanyalah di dalam aktivitas, dalam tingkah laku. John Dewey mengatakan, pengalaman adalah key concept manusia atas segala sesuatu. Pengalaman ialah suatu realita yang telah meresap dan membina pribadi. Pengalaman menurut Progresivisme: Dinamis, hidup selalu dinamis, menuntut adaptasi, dan readaptasi dalam semua variasi perubahan terus menerus, Temporal (perubahan dari waktu ke waktu); Spatial yakni terjadi disuatu tempat tertentu dalam lingkungan hidup manusia; Pluralistis yakni terjadi seluas adanya hubungan dan antraksi dalam mana individu terlibat. Demikian pula subyek yang mengalami pengalaman itu, menangkapnya, dengan seluruh kepribadiannya degnan rasa, karsa, pikir dan pancainderanya. Sehingga pengalaman itu bersifat pluralistis.
Pandangan epistemologi progresivisme ialah bahwa pengetahuan itu informasi, fakta, hukum, prinsip, proses, dan kebiasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai proses interaksi dan pengalaman. Pengetahuan diperoleh manusia baik secara langsung melalui pengalaman dan kontak dengan segala realita dalam lingkungan, ataupun pengetahuan diperoleh langsung melalui catatan-catatan. Pengetahuan adalah hasil aktivitas tertentu. Makin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalaman kita dalam praktik, maka makin besar persiapan kita menghadapi tuntutan masa depan. Pengetahuan harus disesuaikan dan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan.
Dalam pandangan progresivisme di bidang aksiologi ialah nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa, dengan demikian menjadi mungkin adanya saling hubungan. Jadi masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan, kehendak, perasaan, kecerdasan dari individu-individu. Nilai itu benar atau tidak benar, baik atau buruk apabila menunjukkan persesuaian dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan.
Daftar Pustaka
Brubacher, John. S. (1950). Modern Philosophies of Education. Second Edition. New York: Mcgraw-Hill
Khozin. (2005) Menggugat Pendidikan Muhammadiyah, Malang: UMM Press
Kurzman, Charles [ed]. (2001) Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer Tentang Isu-isu Global. Jakarta: Paramadina
Maragustam. (2015). Paradigma Holistik-Integratif-Interkonektif Dalam Filsafat Manajemen Pendidikan Karakter. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Volume11, Nomor 1, Juni 2015
Marsigit, Pembenahan Gaya Mengajars (Teaching Styles) sebagai Upaya Kualitas Pengajran Matematika, Cakrawala Pendidikan. Nomor 3 Tahun XV November 1996
https://www.academia.edu/27850256/ KARAKTER_ISLAM_DALAM_SEJARAH_PERGULATAN_MEMPEREBUTKAN_KEKUASAAN_FILSAFAT_IDEOLOGI_ILMU_MATEMATIKA_DAN_PENDIDIKAN. Diakses tanggal 20 November 2019
McNerney, R.F dan Herbert J.M., (2001). Foundtion of Education: The challlange of Professional Practice. Boston London Toronto: Allyn & Bacon
Nadlifah. (2016). Muhammadiyah Dalam Bingkai Pendidikan Humanis (Tinjauan Psikologi Humanistik). AL-BIDAYAH: Jurnal Pendidikan Dasar Islam Volume 8, Nomor 2, Desember 2016
Nanuru, Ricardo F. (2013). Progresivisme Pendidikan dan Relevansinya di Indonesia. Jurnal UNIERA. Vol. 2, No. 2; Agustus 2013.
Ornstein dan Levine (1989). Foundations of Education. Boston: Houghton Mifflin Company
Sadzali, Munawir.(1993) Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. Jakarta: Universitas Indonesia Press
Siddik, Dja’far. (2015) Filsafat Pendidikan Muhammadiyah. Asrul Daulay dan Ja’far (edt.) Filsafat Pendidikan Islam. Perdana Publishing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar